Menghidupkan Kalam Langit: Cara Pak Muhzan Mengubah Bahasa Arab Menjadi “Sahabat” Anak-Anak MI Alhuda Karangnongko

gpuser

Suara tawa renyah sesekali terdengar dari sebuah ruang kelas di MI Alhuda Karangnongko. Di depan kelas, Bapak Muhzan Khoirul Anwar sedang memperagakan gerakan tubuh yang jenaka sambil melafalkan kosakata baru. Di belakangnya, puluhan pasang mata anak-anak mengikuti setiap gerakannya dengan penuh tawa sekaligus fokus. Bagi sebagian besar siswa di sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah, Bahasa Arab sering kali dianggap sebagai momok—pelajaran yang rumit, penuh hafalan rumus gramatikal (nahwu-sharaf) yang membingungkan, dan menjemukan. Namun, di tangan Pak Muhzan, stigma itu luruh sepenuhnya.

Sebagai guru pengampu Bahasa Arab, Pak Muhzan memegang peran penting dalam membuka gerbang pemahaman literasi keagamaan siswa. Beliau hadir dengan pembawaan yang tenang, berwibawa, namun memancarkan ketulusan seorang pendidik yang ramah anak. Keteduhan itulah yang membuat sosoknya begitu dicintai, mengubah ruang kelas Bahasa Arab menjadi oase belajar yang selalu dirindukan setiap minggunya.

Meruntuhkan Sekat Kaku, Membumikan Bahasa Al-Qur’an

Pak Muhzan sangat mempercayai bahwa bahasa tidak bisa diajarkan secara kaku, terlebih kepada anak-anak usia dasar. Bahasa Arab adalah bahasa komunikasi, bahasa ibadah, sekaligus bahasa Al-Qur’an. Oleh karena itu, beliau fokus pada pendekatan kontekstual yang menyenangkan (fun learning).

Alih-alih langsung menyodori anak-anak dengan deretan rumus tata bahasa yang berat, Pak Muhzan memulai metodenya dari hal-hal terdekat di sekitar siswa. Beliau memanfaatkan lagu, permainan kartu kosakata (mufrodat), hingga percakapan pendek (hiwar) yang menggelitik untuk merangsang keberanian anak-anak berbicara.

Bagi Pak Muhzan, melihat siswa berani melafalkan satu kata bahasa Arab dengan percaya diri jauh lebih berharga daripada hafalan teori yang dipaksakan. Beliau dengan telaten membenarkan pelafalan (makhraj) anak-anak satu per satu, memberikan apresiasi pada setiap usaha kecil mereka, dan memastikan tidak ada anak yang merasa takut salah di kelasnya.

“Menanamkan kecintaan pada ilmu agama, menuntun pemahaman syariat yang benar, dan membentuk generasi Robbani yang berakhlak mulia serta kokoh dalam akidah,” tegas Pak Muhzan mengenai misi besarnya dalam mendidik lewat wasilah bahasa.

Lebih dari Sekadar Guru Bahasa

Dedikasi Pak Muhzan di MI Alhuda Karangnongko melampaui lembar-lembar buku paket. Melalui pengajaran Bahasa Arab, beliau sekaligus menyelipkan penanaman akhlak, nilai-nilai spiritual, dan karakter islami. Setiap kosakata baru yang diajarkan selalu dikaitkan dengan adab sehari-hari—bagaimana menyapa dengan santun, menghormati guru, dan menyayangi sesama teman.

Beliau juga menyadari bahwa keberhasilan anak didik memerlukan dukungan penuh dari lingkungan keluarga. Oleh karena itu, Pak Muhzan selalu membuka ruang komunikasi yang hangat dengan para wali murid, memotivasi mereka untuk ikut mendampingi pembiasaan positif anak di rumah, termasuk dalam mengulang hafalan doa dan kosakata harian.

Melalui kedalaman ilmu, pendekatan yang humanis, dan komitmen yang tak pernah luntur, Bapak Muhzan Khoirul Anwar terus melangkah bersama MI Alhuda Karangnongko—menuntun langkah generasi Robbani agar tidak hanya pandai berbahasa, tetapi juga kokoh secara spiritual dan mulia dalam berperilaku.*(rdp)

No comments

Leave a Comment